Tuesday, July 25, 2017

frekuensi yang berbeda

Saya akui saya dulu sempat salah pemahaman. Bahwa tujuan yang membahagiakan adalah menjadi orang yang 'berpengaruh'. Walau saya bukan tipikal orang yang ambius (bahkan cenderung terlalu santai) tapi saya memilih sesuatu atas dasar apa yang bisa dibanggakan.

Kini makna itu menjadi sedikit tanda tanya dalam benak saya, jika tidak ada orang kecil takkan ada orang besar, bukan? Kalau setiap orang berlomba-lomba menjadi orang yang berkecukupan, sebenarnya apa yang mereka cari di dunia selain kebahagiaan yang semu saja? Lalu "seimbang" menurut saya ada sekarang adalah kunci sederhana yang membuat diri saya lega untuk berpegang teguh. 

Saya tidak ingin menyesali atas apa yang telah terjadi, agar tak ada lagi beban dalam pikiran ini. Juga belajar jika segala urusan akan lebih tertata saat kita memahami 'tujuan hidup' yang sebenarnya. Bahwa saya tidak cukup pintar untuk berbuat lebih banyak, tapi ada hal-hal kecil yang bisa membuat diri saya setidaknya bahagia menjadi diri sendiri. 

Kata orang umur 20-an memang fase untuk memahami jati diri dan juga menentukan orientasi hidup. Saya cukup setuju setelah mengalami krisis kepercayaan diri setahun terakhir. Jalan hidup yang sekarang akan saya jalani ke depannya mungkin bukan apa yang pernah saya bayangkan sebelumnya, tapi saya merasa cukup siap untuk mengahadapinya dengan kepala yang tegak tanpa keluhan ini itu lagi seperti sebelumnya. Biarlah cukup kita pahami 'bentuk pengabdian' kita masing-masing.

Saat ini dunia sering kali bergejolak dengan isu-isu yang sensitif, dengan itu saya belajar untuk mendengar lebih banyak terlebih dahulu dan menyerap ilmu, hingga suatu saat nanti saya berani bersuara lebih keras dan lantang dari sebelumnya, menunjukkan betapa pedulinya saya terhadap agama dan negara saya tercinta :)

Cheers, 
tulisan dari aku yang menemukan kebangkitan semangat

0 comments:

Post a Comment