Sunday, December 18, 2016

diskusi

Semakin kesini ingin menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, orang-orang yang paling menerima dan memahami. Tempat berbagi dan juga tempat kembali.

Selama ini seringkali disibukkan dengan urusan pribadi sehingga untuk sekedar mengobrol via telepon saja harus dihubungi terlebih dahulu. Tapi, aku sadar nanti ketika jarak berkali lipat yang terbentang, akan sulit untuk sekedar "pulang".

Ketika aku tahu banyak kakak-kakak yang mulai bergundah hati karena daerah perantauan saat bekerja nanti, aku mulai membaginya ke kedua orangtuaku. Agar mereka sadar kondisinya disini. Agar nantinya mereka tidak kaget ataupun cemas denganku nantinya.

Sedikit demi sedikit kuberikan pemahaman bahwa aku akan baik-baik saja dimanapun nanti. Walau selama disini aku seringkali pesimis, tapi orientasiku sudah kuarahkan pada idealis masa kecil dulu. Bahwa dimanapun aku berada, semoga akan selalu dalam lindungan keberkahan-Nya.

Tentunya ayah dan bunda tidak yakin aku akan bisa beradaptasi dengan mudah di daerah luar Jawa sana, dengan aku yang terbiasa menginginkan semua yang kuharapkan terkabul. Aku yang seringkali mendapatkan prioritas utamanya. Aku yang dimanja dengan kondisi serba cukup oleh orangtuaku.

Tapi banyak orang sudah membuka mataku, bahwa mungkin ini semua adalah yang kubutuhkan. Semua proses pembelajaran ini menjadi bekal ke depannya. Siap tidak siap aku harus mampu menghadapinya.

Walau aku tahu akan ada banyak kemungkinan mengeluh seperti yang kuamati pada senior kami. Mungkin kami terbiasa saat kuliah di Jakarta, memiliki akses yang serba mudah dan ada. Sedangkan saat penempatan nantinya, keadaan akan sangat jauh berbeda.

Sejujurnya aku sedikit tidak sabar, namun aku ingin memanfaatkan sisa waktu sebaik-baiknya.

0 comments:

Post a Comment