Sunday, July 10, 2016

Start from...

Dimulai dari diri kita sendiri...

Langkah sederhana yang membahagiakan, ketika sudah ada tekad kuat dalam sanubari kita. Seperti pemahaman atau hikmah yang hadir menentramkan hati. Menghilangkan segala rasa khawatir dan keraguan yang menahan diri.

Aku bangga akan teman-temanku yang sudah berhijrah. Aku turut senang dengan teman-temanku yang sudah mapan dan berbahagia. Aku sadar semuanya sudah banyak berubah. Tapi aku ingin berhenti untuk sekedar mengeluh. 


Haqqul yaqin.
Dari kecil aku terbiasa diajarkan untuk skeptis. Memastikan ulang apakah yang kita baca atau dengar itu memang adalah sebuah kebenaran. Jangan terlalu mudah percaya, tetapi tidak kesulitan untuk mendengarkan orang lain siapapun itu.

Proses mempelajari ilmu bukan sekedar percaya "kata orang", tetapi juga didukung oleh dasar yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Ada tiga tingkat keyakinan, yaitu:

1. Ilmul Yaqin
Segala hal yang didasarkan pada ilmu pengetahuan, sejatinya sudah dijelaskan dalam pedoman hidup manusia, Al Qur'an. Namun, terkadang manusia yang masih lalai dan khilaf hanya mempercayai apa yang ia ketahui dari apa yang orang lain katakan.

Pada fase ini, adalah keyakinan setelah mengetahui suatu keadaan yang seharusnya terjadi atas dasar hukum sebab-akibat (kausalitas).

2. Ainul Yaqin
Setelah mengamalkan langsung ilmu yang diketahui atau diperoleh, lantas ia baru mempercayainya. Melihat sendiri keadaan yang sebenarnya dengan ilmu yang didapatkan.

Sayyidina Abu Bakar As Siddiq ra.:
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ فِيْهِ
Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah pada sesuatu tersebut

Ucapan Sayyidina Umar bin Khattab ra.:
مَا رَأَيْتُ شَيْئً إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ
Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah sebelumnya

Ucapan Sayyidina Usman bin Affan ra.:
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ .
Tiadalah aku melihat sesuatu, keculai aku melihat Allah sesudahnya“.

Ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.:
مَا رَأَيْتُ شَيْئًا إِلاَّ وَرَأَيْتُ اللهَ مَعَهُ
Tiadalah aku melihat sesuatu, kecuali aku melihat Allah beserta sesuatu tersebut“.

3. Haqqul Yaqin
Kemantapan hati atas apa yang telah diketahui dan diyakini kebenarannya. Proses setelah kedua tahapan diatas, maka ialah haqqul yaqin. 

Keyakinan bahwa segala yang ada dalam semesta alam ini diatur oleh Dzat Yang Maha Agung yaitu Allah SWT. yang senantiasa memberikan limpahan rahmat dan karunia yang tiada putus kepada makhlukNya.

------------------------------------------------------------------------------------------------

Ketika kita sudah mendapatkan 'ruh' itu sendiri, maka akan datang masa untuk menebar kebermanfaatan. Hal yang hakikatnya saya cari sepanjang perjalanan ini. Tangan saya memang kecil, tapi saya percaya bersama-sama dengan orang yang memiliki angan yang sama dapat mewujudkan hal yang besar.

Saya memang belum pernah mencoba untuk berdakwah seperti apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman saya yang lain. Saya tidak ingin beralasan belum siap atau belum mampu. Tapi fase itulah yang masih saya perjuangkan sampai sekarang.

Tersenyumlah, bahwa Anda tak pernah berjuang sendiri.

0 comments:

Post a Comment