Thursday, July 28, 2016

Review: Rudy Habibie


Setelah sekian lama mecoba menahan diri utk Qtime, akhirnya penasaran juga sama film ini. Ya, anggaplah hiburan pra-UAS setelah menyelesaikan sesi perkuliahan dan tugas-tugas akhir yg bejibun. Maafkan juga walaupun udah bertekad produktif menulis, tapi buntu bahan juga pada akhirnya ditengah rutinitas.



Anw, aku emang gak nonton film Habibie-Ainun, bahkan tadinya lebih tertarik sama film lain garapan Raditya Dika, tapi karena rekomendasi salah satu temen, film ini dijadikan pilihan buat ditonton sendirian. Dan.. memang tidak mengecewakan, justru entah kenapa film ini sukses bikin meneteskan air mata beberapa kali. Entah emang akunya yang lagi cengeng, atau alurnya emang keren bisa bikin baper. 

Sebelumnya emang belum baca sinopsis ataupun trailer filmnya. Cuma tau sosok Habibie dibintangi oleh Reza Rahadian yang cukup laris menjadi tokoh utama. Karakternya yang kuat utk mendalami pribadi yang beraneka ragam menurutku,

Jadi settingan cerita sebagian besar adalah di Jerman, saat Habibie ngelanjutin studinya disana. Dimulai dari saat ia masih kecil dan masih dalam zaman penjajahan Belanda, udah terobsesi sama yang namanya pesawat terbang. Alur film ini sedikit banyak ada flashback, mengingatkan akan motivasi besar sosok jenius ini. Honestly, sosok inspiratif buat aku sendiri itu adalah ayahnya B.J. Habibie.

Pelajaran berharga itu buat terus memperjuangkan harapan kita, doa orangtua kita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat. Menjadi seseorang yang bisa dikenang orang lain dan memberi kontribusi untuk negara ataupun agama, adalah life goals setiap orang pastinya. Tapi kita punya cara masing-masing yang berbeda untuk menyikapi dan menghadapinya.

"Jadilah mata air yang dibutuhkan oleh sekitarnya. Jika ia keruh maka akan kotor pula lah yang lain."

Unexpected point, di film ini diceritain kisah cintanya dengan sesosok perempuan yang interest banget sama Indonesia. Dia bisa berbahasa Indonesia dan pernah dirawat oleh orang asli Ambon. Sedikit setuju dengan statement, bahasa itu menjadi salah satu cara menjelajahi dunia. Menyenangkannya sedikit banyak orang-orang disekitar Habibie ini pun orang asli Indonesia, setidaknya gak bikin pegel buat baca subtitlenya (wkwk :v)

Sisi persahabatan juga dimunculkan di film ini tentang tekadnya menjadi Ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) yaitu salah satu himpunan mahasiswa Indonesia di Eropa. Naik-turunnya konflik sepenuhnya gak terlalu aku nikmatin, karena alur yang cukup cepat walaupun sebenarnya bisa dibilang film ini terasa relatif panjang.

Dari awal cerita udah ada spoiler, bahwa ceritanya gak berakhir sampai disini, akan ada film Habibie-Ainun3. Mungkin biar bisa nyambung aku harus nonton film pertamanya dulu kali ya (sempet liat di tv tapi sepotong doang).

0 comments:

Post a Comment