Tuesday, May 24, 2016

Celengan rindu

My heart beat..
Kagum, menyukai itu rasa yang fitrah.
Tapi perlu dikendalikan dan disimpan dengan rapat.
Agar ia tak membelenggu hati dan pikiran lebih jauh.

Aku tak pandai merangkai kata. Tapi kesukaanku semenjak kecil adalah membaca. Maka dari itu aku ingin menulis untuk menumpahkan pikiranku. Cuma itu yang bisa kulakukan.

Maaf aku hanya rindu. Pada pesan-pesan yang sering kau tuturkan untukku.
Akhirnya aku kembali pada kebiasaan lama, blogwalking untuk membaca tulisan-tulisan ringan dan terkadang sekedar menjelajahi toko buku tuk menghabiskan waktu tenggelam dalam ruang imajiner.

---------------------------------------------------

Penulis sekaligus penyanyi itu mengagumkan. Dia bisa menulis lirik sekaligus menyanyikannya. Yang terkenal Dewi Lestari, akrab dipanggil Dee. Sangat produktif dan menawan hati. Salah duanya yang kukenal dari jejaring maya yaitu Dwitasari dan Fiersa Besari. Keduanya jebolan jurusan sastra.

Yeah.. menyenangkan bukan memiliki kesukaan (re: hobi) yang luar biasa dan di apresiasi orang lain. Disini pengen ngebahas genre yang dua penulis itu angkat adalah roman. Karena, kisah yang saat ini kerap kali mudah diterima oleh generasi yang kebanyakannya saat ini adalah remaja. Walau cerita keseringan adalah picisan, mungkin karena tulisan galau yang sering kukonsumsi.

Sebenarnya hal lain yang membuatku selalu antusias adalah kegiatan sosial. Berbagi menurutku selalu bisa jadi pompa semangat tersendiri. Oleh karena itu aku suka mengikuti gerakan sosial, baik didalam atau luar kampus untuk membuka mata, menambah wawasan dan juga jejaring teman. Kenalan yang tak sengaja dipertemukan oleh dunia yang begitu sempitnya. Tapi memang akhir-akhir ini aku membatasi ruang gerakku sendiri.

STOP baper! Tak perlu bergalau hati. Jadilah profesional..
Simpan semua kegundahanmu sendiri, kau bukan anak kecil lagi yang merengek.
Jadikan semua ini cambuk, walau masih merasa tak bersemangat untuk melakukan apa-apa.
Tapi bisa apa lagi?

Aku tak tahu bagaimana cara memecahkan celengan rindu ini.
Ia yang masih berputar-putat dalam pikiran, sejatinya akan terus baik-baik saja tanpa keberadaanku.
Hanya aku saja yang masih belum bisa seimbang, kehilangan pegangan.

0 comments:

Post a Comment