Tuesday, August 4, 2015

Titik Kesamaan Kita

Ini bukan tentang yang orang lain lihat, tapi ini hal yang kita rasakan. 

"Ketika sudah menjatuhkan pilihan, seharusnya sudah sadar betul atas tanggung jawab beserta resikonya. Ketika sudah berani mengambil keputusan, apapun yang terjadi akan dijalani setulus hati dan sebaik baiknya." 
TWF!

Di saat aku sedang merasa terjatuh berkali-kali, tiba-tiba Tuhan mengirimkan kamu ke sisiku. Kamu yang tiba-tiba membuatku sadar kalau diri ini bisa berarti. Kamu yang bisa melengkapi sebagian diriku yang kosong. Kamu yang menyeimbangkan sisi gelapku.

Mungkin kamu adalah jawaban atas doa selama ini. Aku hanya butuh kedamaian hati dan kehadiranmu mewakili semuanya. Terimakasih, kak. Aku percaya kita sama-sama tak sempurna, tapi dengan melewatinya bersama itu bukan lah suatu masalah yang berarti.

Betapa beruntungnya diriku, sehingga sebenarnya aku takut kehilanganmu, kak. Takut tiba-tiba kamu berubah pikiran dan memutuskan untuk menyerah. Awalnya aku tak berani untuk mengambil resiko ini kak, semata-mata aku takut menyakitimu. Aku ingin menjagamu dari belakang, namun egoku menginginkan keberadaanku disampingmu.

Saat aku mencoba kembali melabuhkan kepercayaan, itu kepadamu kak.
Maafkan aku yang egois, menarikmu kedalam lingkaran bernama perasaan ini.
Tapi apalah dayaku yang masih belajar dewasa ini,
maka ingatkanlah aku ketika aku mulai melewati batas.

Kadang masalah perasaan itu rumit.
Tapi aku merasa menjalani dengan kakak akan terasa lebih sederhana.
Aku berusaha buat gak manja sama kakak,
tapi bersama kakak buat aku menjadi diriku apa adanya.

Bagaimana pun juga, kita telah memiliki prinsip hidup masing-masing.
Ini masalah titik kesamaan kita. Kita sudah sama-sama ingin belajar menjadi dewasa. Tantangan terbesar adalah agar aku dapat mendampingimu berkembang dan mengejar mimpi-mimpimu.

"Jangan berjuang sendirian, karena itu tak akan bekerja. Lebih baik berjuang bersama, akan terasa tanpa beban. Berjuang itu takkan memberatkan satu sisi, tak perlu ada yang dikorban untuk saling menyayangi."

Tapi, aku tak mau megusik lebih dalam masalah perasaan ini.
Menjaga perasaan diri sendiri, sekaligus menjaga perasaan orang yang kau sayangi ini.
Biarkan semua mengalir apa adanya. Jadilah pendamping yang tepat, yang bisa dijadikan sandaran saat ia lemah, dan kembali meguatkan ketika terjatuh. LYM :)

 --Your partner

0 comments:

Post a Comment