Sunday, March 9, 2014

I'm not okay, but I feels so grateful

Aku gaktau apa kamu menghindar, atau kenyataan memang tak menginginkan kita bertemu. Tapi aku hanya ingin mensyukuri keadaan yg telah diberikan kepadaku.

Mungkin aku sering lupa bahwa betapa beruntungnya memiliki orang-orang disekitar kita yg masih peduli dengan kondisi kita. Tetapi malah selalu memikirkan seseorang yang entah apakah ia masih peduli ataupun tidak. Hari ini mungkin aku mendapat tamparan keras dari semuanya.

Aku dituntut untuk sadar bahwa hidup ini akan terus maju. Terus terjebak dengan masa lalu adalah sesuatu yang tidak akan bisa berakhir kalau tak berusaha mengakhirinya. "Berusaha berdamai dengan keadaan." "Menunggu waktu tepat sampai semuanya kembali normal." Rasanya semuanya itu tidak akan pernah ada sampai diri ini berani untuk memulainya.

Aku berkali-kali bertekad, dan juga sering gagal. Tapi lagi-lagi aku ingin berusaha untuk membunuh semua obsesi gila ini. Aku sadar aku gapantes untuk berangan terlalu tinggi. Harusnya aku sadar dengan realitanya. Bahwa hidup harus selalu penuh penerimaan~

Sedikit aja aku mau flashback masa" kelas 12 dulu. Masa" yang sulit dimana harus bisa menata hati dan perasaan di tengah ujian yg hilir-mudik dan kebingungan menentukan arah tujuan selanjutnya. Aku yang berusaha kembali menyibukkan diri seperti sewaktu kelas 11 dahulu, pontang panting mengalihkan pikiran agar tak terus menangis memikirkan keputusan yg telah berlalu.

Aku yang begitu bersemangat mengikuti berbagai kegiatan dan event yg diadakan univ" besar dan ternama. Aku yg tidak mengenal jenuh tetap menata waktu untuk mengejar materi di 2 tempat les sekaligus. Bodohnya hanya karna untuk mengalihkan pikiran untuk seseorang, untuk sebuah nama yg selalu bisa menjadi penyebab aku berlinang air mata. Seseorang yg terlalu berharga sampai aku tak rela untuk melupakan sedikit kenangan bersamanya yg kini hanyalah sebuah memori masa lalu.

Tetapi pada akhirnya masa-masa sulit itu bisa aku lalui. Tanpa sedikitpun sesal untuk pertama kalinya aku bisa jadi orang yg disebutkan namanya saat ujian pengumuman kelulusan. Aku yang biasanya hanya menjadi 'anak rata-rata'. Aku hanya ingin mendapatkan pembuktian bahwa aku tak selemah itu setelah mengetahui hatinya telah memilih untuk percaya kepada orang lain.

Bukan. Jangan salah sangka aku menyesal telah mengenalmu. Tapi aku heran mengapa aku terlalu keras kepala bahwa kupikir kau baik bagiku. Mungkin aku terlalu menutup mata, bahwa kau akan mencari seseorang yang lebih baik dariku. Tentu saja.

Aku sekarang menangisi kenapa saat itu, disaat aku sudah mulai menata semuanya, kau kembali muncul di hadapanku. Seolah bisa menjalani semuanya seperti sedia kala. Seolah tidak ada apa-apa diantara kita. Kini, aku kecewa. Kenyataannya semua terlalu semu bagiku. Kamu menghilang begitu saja seperti sosok yang tidak kukenal.

Aku sadar aku memang telah bersikap terlalu berlebihan. Kuakui itu kesalahanku. Lalu aku bisa apa? Ini semua memang karena obsesi bodohku. Obsesi yang benar-benar harus kuhilangkan sebelum ini semua merenggut senyumku yang sudah lama hilang. Mengembalikan tawaku yg beberapa waktu terakhir hanyalah tawa kosong.

Aku rindu menjadi diriku sendiri yang dulu... :')

1 comment:

  1. Ko sedih sih bacanya😭 semangaaat riniiiiii

    ReplyDelete