Tuesday, March 19, 2013

one more time

tahu hal yang paling menyedihkan?
saat kita merasa tak lagi punya harapan.
disaat kita sangat mengharapkan sebuah kesempatan.

tersadar bahwa seberapapun besarnya keinginan kita atas sesuatu.
itu takkan berarti saat takdir tak mengijinkannya terjadi.
karena semua yang diinginkan tidak mungkin selalu tercapai.
dari situlah kita belajar arti bersabar.
dan menguji sejauh mana kegigihan hati.

sekarang..
rasanya seperti mati
tak memiliki sebuah harapan
dan belajar untuk 'tahu diri'
sampai waktu membantu
diri ini lebih pantas
untuk sekedar berkata: Aku rindu kamu!


ditulis dengan perasaan yg kosong,
dari seseorang yg kehilangan harapan..

untuk sekali lagi, saya kembali membuka luka yang rasanya sulit untuk kering. mungkin karena obatnya cuma ada satu. dan obat itu tak bisa tergapai oleh tangan kecil ini.

siapapun yang membaca tulisan ini, tetap biarkan saya sendiri. cukup diam dan dengarkan, atau tak usahlah dilanjutkan. saya tak bermaksud menyakiti diri sendiri, tapi saya hanya ingin tak lagi membohongi perasaan yang selama ini selalu dipendam. sampai jiwa ini lelah menyimpan semuanya. saya sadar, memendam masalah seperti menyimpan bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. maka, mari mulai sebuah kisah kecil ini...


Cinta dalam Kenangan dan Rindu

"Kau takkan tahu arti kehilangan, sampai kau merasakannya.."

Ini kisah tentang seorang gadis kecil yang bodoh dan keras kepala. Tentang gadis sok tahu yang kehilangan orang kesayangannya. Sehingga ia bahkan tak sanggup menatapnya lagi, takut kehilangan kendali untuk tak meneteskan air matanya kembali.

Kisah ini dimulai saat sang gadis mengenal seorang laki-laki yang mengajarkannya tentang arti kehidupan, menyadarkannya bahwa hidup itu sangat indah dan mengajarinya cara mensyukuri keadaan yang ada. Kedekatan yang awalnya tak pernah terpikirkan, justru terjadi begitu saja layaknya air yang mengalir. Laki-laki itu dapat meyakinkan dan menjawab pertanyaan" kecil sang gadis yang berganti-ganti dari hari ke hari. Sampai akhirnya mereka pun dapat bersatu dan merangkai kisah bersama. Namun sekali lagi, kehidupan itu tak sesederhana seperti apa yang sang gadis baca di dongeng-dongeng. Tak semudah kisah picisan dalam novel yang selalu berjalan bahagia.

Gadis bodoh ini mempertanyakan pada dirinya sendiri, bagaimana ketika suatu saat nanti mereka akan berpisah dan tak sejalan lagi. Ia tak dapat membayangkan sehancur apa perasaannya nanti. Tapi sudah dijelaskan dari awal, gadis ini memang sok tahu. Dia berpikir bahwa sang laki-laki akan hidup lebih bahagia tanpa sosoknya yang hanya bisa mengganggu kehidupannya. Dan gadis ini pun merasa tak pantas bersama laki-laki yang menurutnya terlalu baik untuk dirinya yang kekanakan. Tanpa ia sadari, keputusan yang akan menyakiti perasaannya sendiri dan mungkin juga perasaan orang yang ia sayangi. Gadis itu kecewa dengan pikirannya sendiri, karena ia tahu ia telah melanggar janjinya pada diri sendiri dan mungkin juga pada komitmen yang pernah mereka buat.

Sang gadis hanya bisa meneteskan air mata saat laki-laki itu menyetujui keputusannya. Sedikit pikirannya kembali mengganggu, apakah ia telah melakukan sesuatu yang benar? Tapi kembali ia kuatkan tekatnya, bahwa yang ia inginkan adalah kebahagiaan laki-laki itu. Memang tak pernah mudah baginya, melihat laki-laki itu berubah sikap dan menjadi seseorang yang asing baginya. Sempat benaknya berpikir bahwa laki-laki itu sangat kecewa, namun berusaha ditepisnya sendiri, mungkin keadaan seperti inilah yang juga diinginkannya.

"Aku ini orang yang jahat ya? Selama ini gakbisa bikin dia bahagia. Tapi sekarang pun aku malah bersedih kehilangan sosoknya." ujar gadis kepada kucing pemberian laki-laki itu padanya. Ia sadar terlalu banyak kebaikan yang telah diberikan kepadanya, tapi ia merasa belum bisa dewasa menjalani semuanya. Gadis itu hany mencoba bersikap 'baik-baik' saja untuk menutupi kesedihan hatinya.

Waktu terus berjalan, tapi sang gadis masih belum bisa menyelesaikan masalahnya ini. Setiap kali melihat orang kesayangannya murung, ia merasa perasaannya juga ikut bersedih. Begitu juga saat melihatnya tersenyum dan tertawa, ia ikut merasa bahagia walaupun itu bukan karenanya. Rasanya memang sulit untuk memahami perasaan itu, mudah berubah-ubah mengikuti keadaan yang ada. Satu-satunya yang gadis itu yakini: ia ingin selalu melihat laki-laki itu tersenyum, karena ia sangat menyayanginya.

Apa definisi sayang itu? Sebuah perasaan yang absurd-kah? Lagi-lagi sang gadis tak memahaminya. Selama ini ia hanya berusaha bersikap seperti dulu. Memeberikannya perhatian walaupun dengan cara yang berbeda. Walaupun sang gadis tak pernah bisa saat berusaha menyapanya kembali, seakan-akan lidahnya kelu menyebutkan nama orang kesayangannya itu.

Sang gadis mencoba mengumpulkan keping-kepingnya perasaannya sendiri, mempertanyakan pada laki-laki itu apakah ia dapat memperoleh kepercayaannya lagi dan menjalani dari awal lagi? Butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan keyakinan dan keberanian untuk mengungkapkannya, tapi begitu mendengar nada bicara laki-laki itu, sang gadis merasa sudah mengetahui semuanya. Ia sadar mungkin ia takkan pernah bisa mendapatkan kesempatan itu lagi. Kenyataan yang bisa dia telan pahit-pahit. Senyumnya melemah dan hanya bisa menguatkan hatinya, akhirnya ia bisa jujur dengan perasaannya sendiri.

Suatu malam, gadis ini menangis tersedu dan ia bertemu dengan ibu peri.
"Hey, apa yang kau inginkan, nak? Berhentilah menangis. Apa kau menginginkan laki-laki yang kau sayangi itu kembali padamu? Katkanlah, mungkin bisa kukabulkan." tanya peri itu.

"Tidak, aku tak menginginkannya walau hati kecil ini mengaharapkannya. Satu permintaanku, buatlah ia selalu merasakan kebahagiaan, agar aku selalu bisa melihatnya tersenyum dan tertawa." jawab sang gadis tulus.

Kemudian ibu peri itu tersenyum dan menghilang. Gadis itu berusaha menghapus air matanya dan merasa lega. Ia berharap permintaannya dikabulkan.

Keesokan harinya, laki-laki itu menemuinya dan berterimakasih. Sungguh saat itu sang gadis merasa perkataan itu seperti ucapan perpisahan, sehingga ia hanya sanggup ersenyum dan menggangguk kecil. 

"Berhentilah bersedih. Terimalah kenyataan bahwa kita memang tak lagi bisa seperti dulu. Maafkanlah dirimu sendiri, karena kau pun sudah memaafkan kesalahan yg dulu dan meminta maaf kepadamu." ungkap laki-laki itu.

Gadis itu hanya bisa tercenung dan mengatakan, "Terimakasih untuk semuanya. Akan kucoba untuk itu." walau dalam hati kecilnya ia sadar, ia takkan bisa berhenti menyayangi laki-laki ini. Ia bukan tak memaafkan dirinya, gadis ini ikhlas dengan semua yang telah terjadi. Sungguh ia sadar mungkin hanya waktu yang mampu membuatnya bangkit lagi seperti dulu. Karena laki-laki ini sudah mengajarinya banyak hal, tanpa ia sadari, tentang makna ketulusan yang sesungguhnya...

Aku pergi bukan karena aku ingin
Aku hanya mencoba melakukan
semua yang kau inginkan..

Walau untuk itu,
aku kembali membuka jurang pembatas ini
kembali menutup semua pintu rapat rapat
dan mengubur semuanya dalam dalam.

with love,
RAYA

0 comments:

Post a Comment