Monday, March 18, 2013

news and reblog

STIS is open registration!!
18 Maret ini buat yg minat sekolah kedinasan yg gratis aka. malah dapet uang saku di STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistika) udah bisa mulai daftar. cek di: stis.ac.id nanti ada link buat SPMB STIS dengan ngedaftarin email -> verifikasi email -> isi form pendaftaran -> transfer -> konfirmasi lalu cetak kartu tanda peserta -> tunggu tanggal ujian tahap 1

yah, degdegan juga makin deket dengan tanggal 24, sejauh ini persiapan gue masih under 50% buat tes JPPAU nanti. haaft, makanya lg usaha matengin materi fisika dan mtk. (sempet-sempetnya nih gue bikin postingan ini :p) daan, minggu kemaren emang absurd banget, paginya gue ikutan TO sama ijah, siangnya tambahan di PCI, dan pas nyampe rumah malah gabisa masuk gara" gabawa kunci. eleuh, malemnya baru sempet TO online yg terakhir. kesel sih tanggalnya bentrok sama acara lain, tapi biar ga mubazir tetep ikutan walaupun maksa. semoga aja nilainya ga malu"in dah, gue ngerjainnya sambil ngantuk dari jam 8-11 -___-"

dan sempet-sempetnya gue menggalau pas lagi ngerjain soal bahasa indo gara" ada puisi yg menurut gue keren katakatanya..

SALJU

Kemanakah pergi
mencari matahari
ketika salju turun
pohon kehilangan daun

Kemanakah jalan
mencari perlindungan
ketika tubuh kuyup
dan pintu tertutup

Kemanakah lari
mencari api
ketika bara hati
padam tak berarti

Kemanakah pergi
selain mencuci diri

pas baca itu perasaan langsung acak-acakan. haha, dasarnya emang gue manusia ga stabil kali ya. nah, sebenernya tadinya gue mau mosting draft lain. jadi ceritanya gue ada cerita garapan baru (baru ada ide dan sedikit sketsa), tapi berhubung gue inget ada info pendaftaran STIS ini. jadinya mending di postpone dulu. mungkin kapan" cerita garapan gue itu bisa selesai dan di publish. haaft, seneng akhirnya bisa aktif ngurusin blog ini lagi :) dan sekarang gue mau repost dari blog sepatu merah ya. cekidot~

from: http://blog.sepatumerah.net/2013/03/teori-jodoh/

We’ve got this gift of love, but love is like a precious plant. You can’t just accept it and leave it in the cupboard or just think it’s going to get on by itself. You’ve got to keep watering it. You’ve got to really look after it and nurture it. – John Lennon

Seumur saya hidup, banyak banget saya mendengar teori-teori tentang jodoh. Teori paling pertama yang saya dengar adalah teori jodoh ala Putri-putri Disney; tapi teori ini hanya berlaku untuk perempuan ya (kayaknya sih), jadi kata teori itu, jodoh adalah satu orang yang memang sudah disiapkan yang nantinya bakal berjuang mencari kita….dan seterusnyalalalala, menikah lalu live happily ever after. The end. Fin. Selesai. Kelar.

Lalu ada teori tulang rusuk, katanya laki-laki di dunia ini pada awalnya cuma punya sebelah rusuk, dan perempuan-perempuan adalah rusuk yang mengisi ketiadaan rusuk para laki tersebut. Itu sempat saya percaya lho, sampai mendadak saat SMP, saya mempelajari tentang populasi laki-laki dan perempuan di dunia, lalu menemukan fakta bahwa ternyata jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki.

Lalu ada lagi teori lain, yang mungkin arahnya adalah panduan menemukan ‘jodoh’ yang tepat. Itu lho, teori sepatu dan jeans.

Bahwa jodoh atau pasangan itu harus seperti sepatu, harus pas; kalau tidak pas, maka kita tidak akan merasa nyaman saat berjalan. Kita nggak boleh maksa ‘ambil’ sepatu karena suka secara fisik, padahal kekecilan, karena itu menyakitkan kaki. Atau, padahal kebesaran, karena itu ngerepotin, bisa bikin kesandung, atau pas jalan ketinggalan.

Teori jeans mirip-mirip juga. Cari jeans harus pas, nggak bikin sesak napas, susah jalan, kalau jongkok belahan pantat kelihatan, atau menyebabkan keputihan dan lalalalainnya.

Nah baru beberapa hari yang lalu, seorang kawan mengajukan Teori Angkot. Katanya, jodoh itu kayak angkot, kalau terlalu memilih dan membiarkan yang lewat di hadapan kita berlalu begitu saja, akhirnya kita nggak dapat apa-apa. Terus terang saya mengernyit mendengar teori ini. Saya sih nggak mau punya jodoh/pasangan seperti angkot. Kenapa?
(1) Angkot itu, kita nggak mau naik, nggak peduli, dia bakal cari yang lain. Iya, jadinya kita nggak spesial.
(2) Angkot itu, di setiap pemberhentian, cari orang. Masa mau sih, kalau jodoh/pasangan kita, berhenti dikit, nyari yang lain? :D
(3) Angkot itu, muat banyak, 7 – 5 di belakang, 1 di bangku artis, 2 di sebelah supir. Masa mau sih ramai-ramai dalam satu hubungan? Saya sih nggak, kalau ada yang demen ya beda cerita. :D
(4) Angkot itu nggak selalu sejurusan dengan kita, ada kalanya kita harus berhenti dan ganti jurusan, nggak ada itu namanya kompromi. Ya masa sih kita harus ganti jodoh/pasangan setiap nggak se-arah?
(5) Angkot itu sering bikin kesal kendaraan lain dengan cara menyetirnya yang ajaib, sering dipisuhi. Ah saya mah pada dasarnya cinta damai, nggak mau cari pasangan yang bikin ribut lingkungan. Cari ribut sih kalau perlu aja *eh* :D

Dari sekian banyak teori, teori yang saya suka, karena ‘kena’ di hati *tsah* adalah teori usaha. Seorang kawan pernah bilang, jodoh itu usaha. Usaha nyari dan usaha mempertahankan komitmen/hubungan setelahnya. Dia nggak suka banget dengan teori jodoh-nya Disney’s yang selalu ditutup dengan ‘and they live happily ever after’, seolah-olah kehidupan beres dan perjuangan selesai setelah dapat si jodoh tersebut.

note: tolong setelah baca postingan ini jangan terlalu banyak berpikir :p

0 comments:

Post a Comment