Sunday, December 23, 2012

skeptis? yeah, I do

Akhirnya rindu juga untuk menulis disini. Ngga tega ngeliat blog ini sepi postingan :p
Baru aja baca postingan spatu merah di : http://blog.sepatumerah.net/2012/12/one-day/
Belakangan ini, saya mengalami keengganan yang luar biasa untuk ‘tahu’ berita/informasi di luar sana. Saya menghindari menjelajah website berita yang ada di jagad internet, saya pun mengabaikan surat kabar langganan keluarga saya. TV? Sudah lama saya tinggalkan, kecuali untuk acara Dog Whisperer.
Untuk blog hopping, atau menelusuri tweet orang-orang di timeline Twitter pun sudah jarang saya lakukan, sekarang untuk urusan Twitter, saya menganut motto, tweet and run, habis menge-tweet, tinggal.
Akibatnya?
Saya sering basi, ketinggalan berita. Contohnya, saya baru tahu lalu istilah ‘Cetar Membahana’ yang dipopulerkan oleh -siapa lagi kalau bukan- Syahrini.Saya baru ngehkalau Sting konser di Jakarta. Saya baru tahu peristiwa penembakan di TK di Connecticut.
Iya, basbang. Basi banget.
Ada yang bilang saya tidak peduli keadaan sosial. Dulu-dulu sih, kalau ada yang mengicaukan ketidaktahuan-nya akan sesuatu di Twitter, pasti ada komentar ‘Jiye, yang sok anti mainstream’.
Nggak, bukan nggak peduli keadaan. Bukan juga sok anti mainstream.
Tapi saya sering merasa….capek kalau melihat macam-macam berita yang ada. Ada kelaparan di sana, ada anak nggak bisa sekolah di sini, ada yang perang, ada yang diperkosa, ada remaja yang tega membunuh bayinya. Ada yang bangga pada perselingkuhan, ada yang dengan seenaknya mempermalukan orang lain di media sosial.
Capek. Dan tentu saja ngeri. Sumfah.
Kita itu hidup di dunia macam apa sih? Kok mengerikan begini semakin lama?
Dan yang lebih mengerikan lagi, semua hal itu tidak dianggap sebagai hal yang nggak bener. Menyakiti orang lain, dianggap biasa, bukan hal besar, malah dianggap sebagai hal keseharian, seperti makan siang, seperti mandi, seperti eek.
Terus terang saya sering merasa ketakutan sendiri, lalu mood saya rusak berantakan setiap membaca berbagai macam informasi yang ada.
Saya nggak suka mood saya rusak; makanya saya menghindar.
Egois?
Iya, mungkin.
Mendadak saya teringat, sepuluh tahun yang lalu, saya pernah mengalami hal seperti ini juga. Muak dengan berita, muak dengan keadaan.
Tapi bedanya, waktu itu, saya masih punya semangat untuk berusaha merubahnya. Saya turun, untuk melakukan sesuatu, saya tidak menghindar. Saya masih ingat betul, masa-masa itu; masa-masa di mana kehidupan jadi ribet, kadang-kadang bikin frustasi. Waktu itu kebetulan saya dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama. Jadi, apapun yang terjadi, pasti ada mereka yang ‘menangkap’ saya, kemudian melambungkan kembali semangat.
Kami ‘turun’ dengan optimisme, jika ada yang ‘bergerak’, maka keadaan cepat dan lambat pasti akan berubah.
Sekarang?
Saya pesimis.Kemudian berubah menjadi tidak mau tahu, karena jika tahu saya bete, dan saya nggak mau bete.
Aneh. Kemana itu jiwa (sok) heroik saya? Apakah menghilang bersama terbuangnya tahun demi tahun selama saya hidup?
Katanya sih, kalau masih muda, idealisme terjunjung tinggi. Semakin menua, semuanya menguap sedikit-demi sedikit — sehingga kita menjadi (katanya lebih) realistis.
Bener nggak sih?
Dan orang-orang yang pernah menjadi support system saya pun seolah melempem semua. Kayaknya sih mereka mengalami hal yang sama dengan saya; menutup mata dengan keadaan dunia.
Iya, saya lagi bingung. Dan sebal dengan dunia yang begini.

Yah, sedikit setuju sama pemikiran seperti itu, karena pada dasarnya saya orang yang.. mmm, skeptis. Agaknya memandang persoalan di dunia ini dengan sudut pandang yang berbeda itu benar" menguras semua kata" yang ada. Tapi nyatanya saya rindu dengan momen saat SD dan SMP dulu, mengkritik perilaku pemerintah dan negara tiada habisnya, seolah kita sebagai generasi bangsa dapat melakukan hal yg lebih baik. Haha, lucunya -___-

Ga kerasa, sekarang waktu udah berjalan dengan cepat. Ga lama lagi udah lepas dari bangku sekolah, terlepas dari status murid dan juga 'seragam'. Wkwk, nyatanya sekarang saya malah takut. Takut ga bisa jadi seseorang yang dewasa dengan pemikiran yg lebih baik. Saya yang masih nyaman dengan kekanakan dan sifat egoisme yang selalu saja mengecewakan diri saya sendiri. Ahh, cepatnya waktu berlalu u.u

0 comments:

Post a Comment