Tuesday, June 26, 2012

missing you

hello blog! lama juga ya ga nulis disini, maafkan blogger ini. hhe, sebenernya pengen banget bisa aktif ngepost tulisan tentang kabar terkini ataupun sekedar bikin post cerita dan juga sinopsis novel, tapi apa daya di tengah kesibukan sebulan kemaren bener bener ga sempet untuk sekedar berbagi tulisan di blog usang ini. rindu juga.curhat di blog ini. bentar lagi udah mau libur kenaikan kelas, happy holiday guys, hope all of you enjoy it :)

karena ga ada bahan tulisan yang bakal saya posting, jadi saya cuman pengen repost dari blog dwitasari. seseorang yang bercita" tinggi menjadi penulis hebat, yang dari tulisannya juga cukup dapat diacungi jempol :)



from : http://dwitasarii.blogspot.com/2012/06/mungkin-aku-terlalu-berharap-banyak.html


Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.



Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan satang bertubi-tubi ketika dirimu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit menjauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?



Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.



Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!



Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

dari seseorang yang kehabisan cara

membuktikan rasa cintanya




from : http://dwitasarii.blogspot.com/2012/07/menjelaskan-kesepian.html

Waktu merangkak dengan cepat, merangkak yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasa tak berbeda, waktu telah memutar balikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi penyebab kegelisahan. Aku menjalani, kamu meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang akan menentukan akhir cerita ini. Kamu tak punya hak untuk menebak, begitu juga aku.


Kau bilang, tak ada yang terlalu berbeda, tak ada yang terasa begitu menyakitkan. Tapi, siapa yang tahu perasaan seseorang yang terdalam? Mulut bisa berkata, tapi hati sulit untuk berdusta. Kalu boleh jujur, semua terasa asing dan berbeda. Ketika hari-hari yang kulewati seperti tebakan yang jawabannya sudah kuketahui. Tak ada lagi kejutan, tak banyak hal-hal penuh misteri yang membuatku penasaran. Aku seperti bisa meramalkan semuanya, hari-hariku terasa hambar karena aku bisa membaca menit-menit di depan waktu yang sedang kujalani. Aku bisa dengan mudah mengerti peristiwa, tanpa pernah punya secuil rasa untuk menyelami sebab akibatnya. Aku paham dengan detik yang begitu mudah kuprediksi, semua terlalu mudah terbaca, tak ada yang menarik. Kepastian membuatku bungkam, sehingga aku kehilangan rasa untuk mencari dan terus mencari. Itulah sebabnya setelah tak ada lagi kamu di sini. Kosong.



Bagaimana aku bisa menjelaskan banyak hal yang mungkin saja tidak kamu rasakan? Aku berada di lorong-lorong gelap dan menunggumu mempertemukan aku pada cahaya terang. Namun, bahkan kamu saja enggan, dan penyelamatan yang kurindukan hanya omong kosong yang memekakkan telinga. Harapanku terlalu jauh untuk mengubah semuanya seperti dulu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu dalam barisan hariku.



Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini kutakutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata yang sering kali jatuh tanpa sebab. Aku sulit memahami kenyataan bahwa kamu tak lagi ada dalam semestaku, aku semakin tak bisa menerima keadaan yang menyudutkanku. Semua kenangan bergantian melewati otakku, bagai film yang tak pernah mau berhenti tayang. Dan, aku baru sadar, ternyata kita dulu begitu manis, begitu mengagumkan, begitu sulit untuk dilupakan.



Ada yang kurang. Ada yang tak lengkap. Aku terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika menjalani setiap detik tanpamu, yang kurasa hanya bayang-bayang yang saling berkejaran, saling menebar rasa ketakutan. Ada rasa takut tanpa sebab yang memaksaku untuk terus memikirkan kamu. Ada kekuatan yang sulit kujelaskan yang membawa pikiranku selalu mengkhawatirkanmu. Salahkah jika aku benci perpisahan?



Tak banyak yang ingin kujelaskan, saat kesepian menghadangku setiap malam. Biasanya, malam-malam begini ada suaramu, mengantarku sampai gerbang mimpi dan membiarkanku semdiri melewati setiap rahasia hati. Kali ini aku sendiri, memikirkan kamu tanpa henti. Aku tak tahu dan tak mau memikirkan keadaan yang tak mungkin kembali. Semua sudah jelas, namun entah mengapa aku masih sulit memahami, kenapa harus kita yang alami ini?



Jangan tanyakan padaku, jika senyumku tak lagi sama seperti dulu. Jangan salahkan aku, jika pelangi dalam duniaku hanya tersedia warna hitam dan putih. Setelah kamu tak ada disisi ini, semuanya jadi berbeda, Aku bahkan tak mengenal diriku sendiri, karena separuh yang ada dalam diriku sudah berada dalammu.. yang pergi, dan entah kapan kembali.


Saya merindukanmu, juga kita yang dulu.



from : http://dwitasarii.blogspot.com/2012/08/selanjutnya-kita.html

Malam ini semua tampak lebih berwarna. Aku sudah melakukan banyak hal sendirian, melatih kemandirian. Mungkin kamu akan terkejut melihat perubahanku, aku sudah berbeda sekarang. Atau boleh dibilang, bukan hanya aku, kamu juga berbeda sekarang. Seiring waktu berjalan, semua berubah tanpa persetujuan kita. Tiba-tiba saja aku sudah seperti ini dan kamu sudah tak lagi disini.

Akhirnya, ya memang akhirnya, karena tak ada lagi yang akan terulang. Hari-hari yang dulu aku dan kamu lalui bersama. Realita berbicara lebih banyak, sementara aku dilarang untuk bermimpi terlalu jauh, apalagi mengharap semua yang telah terjadi bisa terulang kembali. Jika dulu kita begitu manis, entak mengapa sekarang berubah jadi miris. Memang hanya persepsiku saja yang melebih-lebihkan segalanya, mengingat perpisahan kita terjadi tanpa sebab, sulit ditebak, sampai akumuak mencari-cari yang kurasa tak pernah hilang.

Begitu banyak mimpi yang ingin kita wujudkan, adakah peristiwa itu tersimpan dalam ingatanmu? Aku berusaha menerima,kita semakin dewasa dan semakin berubah segalanya. Tapi, salahkah jika kuinginkan kamu duduk disini sebentar dan kembali menceritakan mimpi-mimpi kita yang belum sempat kita wujudkan?

Aku sudah berusaha bernapas tanpamu, nampaknya semua berhasil dan berjalan baik-baik saja. Tapi di luar dugaanku, setiap malam-malam begini, kamu sering kembali dalam ingatan, berkeliaran bersama semua kenangan kebersamaan kita. Pikiranku masih ingin menjadikanmu sebagai topik utama, dan hatiku masih mau membiarkanmu berdiam lama-lama disana. Aneh memang jika aku sering memikirkanmu yang mungkin sudah tak ingin mengingatku lagi. Menyakitkan memang jika harus terus mendewakan kenangan hanya karena masa lalu terlalu kuat untuk dihancurkan.

Beginilah kita sekarang. Tak lagi saling bersapa, tak lagi saling bertukar kabar. Semua seperti dulu, ketika kita tak saling mengenal, segalanya terasa asing. Kosong.

Apapun yang kita lakukan dulu seperti terhapus begitu saja dengan masa, hari berganti minggu, minggu segera beranjak menuju bulan, sejak saat itu juga jantung kita tak lagi mendenyutkan rasa yang sama.

Inilah kita yang sekarang, berusaha melupakan yang disebut kenangan. Berusaha melawan ketakutan yang disebabkan perpisahan.



dan satu lagi, kutipan dari seorang teman yang bernama Alifia Seftin Okriwina.

Bolehkah Aku?
bolehkah aku merindu?
pada senyummu, pada candamu?
ataukah aku harus menahan kelu?
pada bisu yang mengurungmu?

bolehkah aku merindu?
pada renyah suara tawamu?
ataukah aku harus menahan pilu?
pada dingin yang merasukimu?

bolehkah aku merindu
pada kata "aku sayang kamu"?

*this post dedicated to someone that i miss everytime i didn't do anything. someone who always appears in my mind everywhere i go into memories' place*

0 comments:

Post a Comment