Friday, April 3, 2009

CAHAYA REMBULAN

Dering weker kesayanganku berbunyi. Suaranya yang khas pun segera membangunkanku. Namun tak urung jua mataku masih ingin lebih lama untuk terpejam. Perlahan tapi pasti tubuhku kembali tergolek diatas tempat tidur.

“ Bulan. Ayo bangun dong. Solat, solat..”
Suara yang selalu kukenal. Kubuka setengah mataku.
“Iya.. Bentar Aya. Gue masih ngantuk,”jawabku sama setiap hari.
“Aaah,, kamu itu, selalu saja beralasan. Ayo bangun,”katanya sambil mengerling nakal dan siap mengeluarkan jurus terjitunya.
“Iya deh.. Daripada ntar gue digelitikin lagi,”aku bangun dengan malas dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah solat aku bergegas turun untuk sarapan.
“Waah.. Tumben Bulan turun sendiri. Biasanya nunggu dipanggil dulu. Hahaha,”Cahaya mulai menggodaku.
“Uda deh ya.. Ini khan gara-gara lo.. Gue masih ngantuk tau..”
“Oya?? Salah kamu sendiri tidur kemaleman. Hari ini khan pertama masuk sekolah. Masa mau telat. Kamu tuh kelamaaan liburan jadi gini.”masih pagi Aya udah mulai memberi petuah.
“Iya deh.. Gue ngaku salah Bu Guru. Wheek,”balasku sambil menjulurkan lidah.
“Aduuh.. Pagi-pagi anak papa udah ribut.. Makan yang bener aja atuh..”papa pun memutuskan perang yang tadinya hendak berkibar.
“Hehehe.. Iya pah..”jawabku dan Aya sambil cengegesan.“Nggak terasa yah sekarang udah masuk lagi,”ucap Aya membuka percakapan di mobil.
“He eh,”jawabku singkat sambil melihat kaca. Wajahku dan Aya yang sebetulnya sama pun terlihat berbeda. Karna sejak masuk SMP aku menggenakan kacamata dan Aya memutuskan untuk menutup auratnya.
“Liat deh.. Kita udah nyampe. Perasaan ditinggal liburan nggak ada yang berubah,”
“Yaiyalah.. Lo berharap lebih amat.. Ckckck,”jawabku jutek. Aku masih belum ikhlas meninggalkan masa liburan yang diisi dengan tidur panjang. Dasar anak males,setiap hari kata-kata Aya itu pasti terlontar. Aku pun bergegas menuju kelas kami.
“Lan,, mungkin nggak ya sekarang ada murid baru di kelas kita?”tiba-tiba Aya mulai berceloteh.
“Nggak tau deh. Sok tau lo. Menurut gue nggak ada.”
“Ye.. Khan mungkin ajah.. Bagusnya ada murid pindahan cowok yang keren. Hahaha,”Aya berimajinasi.
“Pikiran lo isinya cowok mulu. Malu tuh ama jilbab lo..”
“Yee.. Emangnya nggak boleh ya?? Khan nggak ada aturan yang melarang.. Yang penting solat Lan,”jawab Aya menohok hatiku.
“Iya deh Bu Aya.. Hahaha,”aku langsung kabur ke dalam kelas.

Kulihat tas Matahari,teman sebangkuku dari kelas 10,sudah nangkring diatas meja. Namun anaknya sudah entah berantah kemana. Kutaruh tasku di meja sebelah Ari,panggilan dari Matahari, dan aku pun berlari-lari kecil ke lapangan basket untuk mencari sahabatku dari SMP itu.
“Woi Non.. Tumben lo dateng rada pagi,”Ari menyambutku sambil melambaikan tangan.
“Arrght.. Ri,, lo nggak usah ngejek gue deeh.. Emang lo pengen gue dateng telat??”aku memasang muka masam.
“Bukan gitu Non. Ini tuh rekor. Lo dateng 30 menit sebelum bel. Woow,”jawab Ari sambil membelalakkan mata yang membuatku hampir terkekeh geli.
“Gitu ya.. Layak masuk rekor MURI nggak,”kataku menggoda sambil mengedipkan mata.
“Yee.. Lo terlalu berharap untuk masuk MURI.. Hahaha.. Napa tuh mata elo. Kelilipan? Gue tiupin deh.. Dasar Bulan sableng. Hahaha..”
“APA LO BILANG RII???”aku mengambil ancang-ancang buat mencubitnya.
“Wuuuaaa.. Ampun Lan,”Ari kabur dengan mengelilingi lapangan. Sontak anak-anak yang sudah datang mulai bersuit-suit meledek. Tapi aku yang tak peduli terus menerus mencubit Ari hingga aku kelelahan sendiri.

Bel sudah berbunyi. Murid-murid pun sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Keributan yang tadinya berlangsung di lapangan pun berpindah ke kelasku yang belum dimasuki guru wali kelas kami. Hingga tiba-tiba sosok guru paling killer sejagat,sebutan untuk Pak Jonathan,guru matematika yang sialnya tahun ini menjadi wali kelas kami lagi. Bisik-bisik dan kasak-kusuk tentang liburan pun langsung terpotong begitu pintu kelas terbuka.
“SELAMAT PAGI PAK,”sontak penghuni kelas mengucapkan salam dengan koor.
“Selamat pagi anak-anak.”jawab Pak Jo dengan wajah yang tak ramah menunjukkan ada yang tak beres dengan pagi ini.
“Pagi ini ada kabar baik untuk kalian. Akan ada teman baru di kelas 2IPA-1 ini. Bapak harap kalian bisa menerima kedatangannya dengan baik.”
Samar terdengar bisik-bisik mengenai anak baru itu. Kulihat dengan jelas Aya menoleh padaku sambil memamerkan senyum kemenangannya. Lalu pintu kelas pun terbuka dan muncul sesosok tubuh jangkung berkulit kehitaman. Tampang anak berandal dan yang pasti dia suka olahraga,pikirku begitu melihat tampang sok coolnya.

“Hai.. Nama gue Bintang Saputra.. Lo semua bisa panggil gue Bintang. Gue pindahan dari Jakarta,”ucapnya dengan PD. Dia nggak sadar membuat Pak Jo mengernyitkan alisnya mendengar bahasa LG-nya yang blak-blakkan itu.
“Cukup perkenalannya. Bisa dilanjutkan saat istirahat. Sekarang kamu Bintang bisa duduk di kursi kosong di pojok ruangan itu. Di samping Matahari.”ucap Pak Jo dengan nada gusar.Dengan wajah yang sok innocent anak baru itu berjalan tanpa basa-basi menuju bangku yang dimaksud.
“Hei.. Gue Matahari. Lo bisa panggil gue Ari,”Ari bermaksud berkenalan sambil mengulurkan tangan. Namun anak tampang berandal alias Bintang pun acuh tak acuh menyambutnya. Ari pun mengangkat bahu ke arahku. Aku pun membisikkan kata “anak sombong tuh” ke telinganya.

Bel istirahat menyelamatkan seisi kelas dari tikaman keji soal-soal fisika pemberian Pak Aryo. Setelah hampir 2 jam otak sudah tergilas oleh ribuan angka angka dan rumus yang terus berputar putar di otakku.
“Arrght.. Akhirnya merdeka juga,”kataku keras sambil mendesah bahagia.
“Gitu ajah merdeka Lan.. Indonesia udah merdeka 63 tahun kale. Lo baru nyadar??”sahut Ari cengar cengir.
“Gue juga tau dodol!! Maksudnya gue merdeka dari soal-soal yang bikin kepala meledak. Kalo otak jenius lo mah udah biasa liat soal soal kaya gitu. Udahlah sekarang saatnya isi perut..”jawabku nggak mau kalah sambil memegang perut serasa belum makan 2 hari 2 malam.
“Makanya kalo mau pinter belajar,”Ari mengutip iklan.
“Pikiran lo tuh makanan mulu. Perut lo nggak pernah kenyang ya?? Hahaha,”katanya mengejekku.
“Perut gue ini.. Hurry up guys.. Let’s go to canteen,”
“Iya deh gembul.. Sok inggris lo..”
Pelototanku menghentikan canda Ari. Lalu kulihat sedari tadi ada sepasang yang menatap kami berdua jengah. Anak baru yang aneh itu,hatiku bertanya tanya. Tatapannya yang tajam itu membuatku bingung mengartikannya.

Pulang sekolah seperti rutinitasku sebelum liburan adalah pulang bareng Matahari. Rasanya baru kemarin aku mengenalnya dan awal persahabatan kami hanya karna basket. Basket-lah yang menyatukan kami. Dan juga hobiku yang terus menjadi ledekan Ari adalah...... Yup,,sering terlambat. Sejak masuk SMP pertama kali kebiasaanku nggak pernah bisa berubah. Terlalu malas adalah bawaanku dari kecil. Untungnya aku mempunyai asisten yang selalu membantuku. Tidak lain dan tidak bukan adalah Cahaya. Dialah yang selalu sabar menahadapiku selain papa. Sampai sekarang aku heran bisa bersahabat dengan Ari yang sifatnya 180 derajat berkebalikan denganku. Mungkin memang takdirnya aku bisa berteman dengan pemegang juara umum di sekolahku. Tidak salah Ari menjadi salah satu kebanggaanku di sekolah selain Aya.

Tak terasa kami sudah sampai di blok perumahan Permata Permai. Rumah kami memang tidak terlalu berjauhan. Hanya terpisah beberapa blok. Jadi kami pun berpisah di perempatan dan aku pun melajutkan perjalanan menuju rumah. Setiap pulang aku memang jarang bersama Aya,karna jadwal ekstrakulikuler kami yang berbeda. Aku selalu mengambil yang berkaitan dengan olahraga yang outdoor,sedangkan Aya lebih memilih Rohis dan KIR yang indoor. Walaupun kami kembar namun tak ada yang bisa menjamin sifat kami sama khan? “Mirip namun berbeda”itulah perumpamaan yang cocok.
Sesampainya dirumah,kulihat Aya sudah dengan santai duduk di sofa. Sambil menonton TV. Pasti acara favoritnya! Spongebob,tebakku.
“Baru pulang Lan?? Aku pengen ngomong nih..”
“Yaiyalah masa yaiyadong.. Cape nihh.. Hehehe.. Ngomong ajah kali..”
“Lan.. Kamu tau nggak Bintang tuh siapa?? “
“Bintang?? Murid baru itu? Kenapa? Kamu suka ama dia ya??? Ngaku deh..”
Kulihat pipi Aya bersemu merah tapi ia berusaha menutupinya.
“Engg.. Enggaklah.. Masa kamu lupa si?? Dia Bintang teman masa kecil kita. Teman kita dari SD yang dulu musuh kamu.”kata kata itu membuatku terkesiap. Wajah yang dulu pernah kukenal. Wajah yang mengisi lembaran masa laluku dengan Aya. Setelah 4 tahun tak bertemu membuatku harus kembali mengingat wajah orang yang dulu begitu kubenci.

Teringat kembali saat saat penuh kenangan. Seperti mesin waktu yang berjalan kuingat kembali lembar-lembar masa laluku. Saat saat aku masih kecil dan tinggal di Jakarta. Saat keluargaku masih utuh. Mama yang masih bisa menemaniku di setiap hari. Mama yang kurindukan. Sesaat aku seperti terlempar ke 6 tahun yang lalu.
“Mah.. Aku pergi ke lapangan dulu ya.. Mau latihan basket sama teman,”pamitku seperti biasa diiringi anggukan kecil mama. Aku pun mengambil bola dan bergegas menaiki sepeda menuju lapangan yang berada di dekat kompleks rumahku. Wajah bersungut sungut milik Bintang menyambutku begitu aku tiba.
“Dari mana aja? Cepat kesini. Katanya mau lawan aku. Kamu takut dan berubah pikiran ya? Dasar penakut.”teriak Bintang di siang hari yang panas.
“Aku nggak pernah takut sama kamu. Liat ajah aku pasti menang melawan kamu.”jawabku sombong dan angkuh seperti biasa. Aku berlari ke tengah lapangan dan mengeluarkan bola,bersiap untuk memulai. Aku dan Bintang sedari dulu adalah musuh bebuyutan dalam bermain basket. Daridulu ia selalu mermehkan permainanku. Dan sekarang saatnya aku membuktikan dan membalaskan rasa sebalku padanya. Permainan 1 on 1 berlangsung dengan alot. Peluh telah mengucur dari tubuhku. Namun aku tak pernah mengalah,sehingga kedudukan berakhir dengan seimbang. Senyum puas terukir di wajahku.
“Gimana? Aku nggak seburuk yang kamu bilang khan?”kataku bangga walaupun aku belum berhasil mengalahkannya.
“Kamu boleh puas. Tapi menurutku hanya segitu aja kemampuan kamu.”Bintang berkata cuek sambil berjalan pergi meninggalkan lapangan.
“Tang.. Tunggu. Jangan pergi begitu aja.”teriakku memanggilnya. Namun percuma saja,tubuh itu perlahan menghilang dari pandangan mata. Kembali aku menghela napas. Selalu saja dia pergi sebelum aku selesai berbicara padanya. Dasar nyebelin !,makiku dalam hati.

“Bulan,Aya,cepat turun. Mama udah bilang kan kalo sekarang mau ke rumah tetangga baru kita?”mama mengetuk pintu kamarku begitu pun dengan pintu kamar Aya. Sontak Aya yang sudah siap beranjak keluar dan aku pun segera menyusul.
Siang tadi memang ada keluarga yang pindah ke rumah yang berada di depan rumahku. Namun aku yang sedang sibuk mengerjakan tugas tidak begitu mempedulikannya. Dari yang mama katakan,sepertinya teman lama mama yang memutuskan untuk kembali ke rumahnya yang dulu setelah bercerai dari suaminya Ia tinggal bersama kedua anaknya. Dan salah satunya ada yang seumuran denganku dan tentu saja dengan Aya.

“Assalamu alaikum”mamaku mengetuk pitu depan rumah tetangga baru kami itu.
“Wa alaikum salam. Bu Shanti apa kabar? Tidak menyangka kita dapat bertemu lagi dan menjadi tetangga ya? Anakmu cantik cantik. Ayo,silahkan masuk.”sapa teman lama mama itu ramah.
Aku dan Aya yang cengar cengir setelah dipuji,pun bergegas masuk. Mama dan Bu Lila seperti orang yang telah lama tak berjumpa segera terlarut dalam perbincangan. Lalu langkah kaki yang menuruni anak tangga membuat semua mata menengok ke arah suara. BINTANG??? Aku terhenyak melihat wajah yang kemarin baru saja kutantang itu.
“Bintang,kesini. Ini teman mama dan anaknya. Kenalkan Bu Shanti,Bulan,dan Cahaya.”Tante Lila memperkenalkan kami satu satu.
Anak super bengal yang pernah kulihat ini,hanya mengangguk takzim di hadapan mamanya. Beginilah sikap sok manisnya,batinku mendumel.
“Bintang udah kenal sama Aya dan Bulan kok. Sekelas.”jawabnya singkat. Kulihat matanya melirik ke arahku dan Aya tajam.
“Iya,”Aya turut angkat bicara.
Aku hanya mengangguk angguk membayangkan sempitnya dunia ini. Membayangkan nasibku selanjutnya karna musuh besarku telah menjadi tetangga dekat. Belum belum aku sudah bergidik ngeri.

Esok harinya begitu kutiba di sekolah bayangan sosok tegap itu menghampiriku. Padahal pagi baru tiba namun perasaanku sudah tak enak.
“Woii Lan. Jalannya kaya bebek. Sini aku pengen ngomong.”serunya dari depan pintu kelas. Aku hanya mengangkat bahu bingung dan menghampirinya.
“Mau ngapain Tang?? Masih pagi mau ribut?”sahutku jutek.
“Bukan. Ini penawaran bagus dariku. Kita harus genjatan senjata. Kalau mama-ku tau kita musuhan aku bisa jadi incaran kemarahannya.”
“Whaaaat? Nggak salah seorang BINTANG SAPUTRA menawarkan perdamaian. Hahaha.”aku cekikikan sendiri.
“Diem deh.. Dasar bawel !”
“Katanya mau damai? Aku juga mau aja. Daridulu kamu yang mulai duluan nyari ribut khan?”
“Iya deh.. Aku ngaku salah.. Deal nih??”
“OK !! Ternyata Bintang anak mami ya?”balasku iseng. Sebagai gantinya sebuah jitakan mendarat mulus di kepalaku.
“Damai mas..”kataku sambil menjulurkan lidah.
“Kamu yang mulai ngeledek. Jangan salahin aku kalau sepatuku juga bisa mendarat di kepala kamu itu.”dia mengancam.
“Terlalu sadis si Bintang.. Mau meninpukku dengan sepatu bututnya..”aku menyanyi cempreng.
“Biarin aja.”Bintang mulai kumat cueknya dan pergi meninggalkanku memasuki kelas LAGI. Emang dasar kebiasaan jelek !
Semenjak hari ini pun persahabatanku,Bintang dan Aya dimulai.

Satu tahun berlalu semenjak kejadian di kelas lima itu. Keadaan dulu menjadi terbalik 180 derajat. Aku dan Bintang yang tadinya musuh pun menjadi bersahabat. Dimana ada aku dan Aya pasti disitu ada Bintang. Begitu pula sebaliknya. Setelah satu tahun menjalani kebersamaan kami pun semakin menjadi kompak. Setiap sore pasti kami berkumpul di taman untuk bermain bersama. Tempat favorit kami adalah dibawah pohon beringin.
“Waah,seharian cape banget.. Mana tadi ada ulangan IPS. Sungguh menggilas otak.”ujarku mengeluarkan unek unek di tempat yang sejuk itu.
“Masa siih Lan?? Biasa ajah kali..”jawab Bintang enteng.
“Otakku khan pas pas-an nggak kaya kamu.. Hufft.”aku menghela nafas panjang.
Aya terlihat termenung. Tiba tiba ia sesunggukan kecil.
“Ya.. Kamu kenapa?”Bintang cemas.
“A..a..aku.. Nggak papa kok..”
“Ya.. Jangan boong sama kita. Kita khan sahabatan. Masa nyembunyiin sesuatu sama kita.”kataku tegas.
“Hhh.. Aku malu Lan.. Kamu sama Bintang tuh pinter olahraga dan jago basket.. Sedangkan aku??”akhirnya muncul juga pengakuan dari mulut Aya.
“Ya ampun.. Kok kau bisa mikir gitu siih?”aku berdecak. Aku memang tahu sedari kecil ada yang tak beres dengan jantung Aya. Jadi dia disarankan untuk tidak terlalu letih dan jangan sampai memforsir diri dengan berolahraga. Bintang pun mengetahui hal ini.
“Aya.. Aku mau sahabatan sama kalian karena kalian adalah kalian. Kamu nggak usah berusaha menjadi seperti Bulan. Bulan juga nggak perlu menjadi seperti kamu. Karena kalian sendiri memiliki kelebihan dan kekurangan Aku pun juga begitu. Kamu ngerti khan,Ya?”keluarlah penjelasan dari Bintang. Nggak pernah kusangka mantan musuhku ini bisa berkata seperti itu.
Aya pun menganggukkan kepala. Senyuman indahnya pun telah kembali. Aku pun mendesah bahagia. Masalah kecil ini telah terselesaikan.
“Bintang bener. Kamu itu kakak aku Ya.. Aku selalu terima kamu apa adanya.. Kamu jangan pernah sampai berpikir kaya gitu lagi ya??”
Aya pun menjawabnya dengan anggukan kecil. Dan kami pun berpelukan erat.
“Janji ya kalo persahabatan kita nggak akan pernah putus?” Aya mengangsurkan kelingkingnya. Itu tanda perjanjian bagi kami. Kami saling mengaitkan jemari dan menganngguk puas. Tak lama kejadian itu telah terlupakan dan kami hanyut dalam keceriaan.

Satu bulan setelah perjanjian kami. Satu bulan pun aku dan Bintang belatih untuk turnamen basket antar sekolah di Jakarta. Aku dan Bintang menjadi ketua di tim kami sehingga kami menjadi sama sama sibuk. Tapi Aya tak lupa selalu mendukung. Sehari sebelum pertandingan semifinal (kami telah berhasil sejauh ini) mengadakan latihan di GOR. Kami berjuang dengan keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
“Lan.. Gimana niih? Yang lain uda cape? Latihannya udah aja kali.. Ini udah jam 7 malem looh. Kita kan uda latihan dari jam 5.”
“Yaudah deh.. Semuanya bubar ajah.. Kita mau pulang ke rumah sekarang?”
“Ntar ajah deeh. Sampai jam 8.. Kita tanding berdua dulu. Aku mau liat kemampuan kamu sekarang.”
Satu jam berlalu seperti melelahkanku. Mungkin staminaku sudah turun habis. Aku pun harus menerima kenyatan kekalahan skor akhir 10-8. Usai bermain aku terduduk lelah di pinggir lapangan sambil menenggak habis minumku. Lapangan sudah sepi karna sebentar lagi pun GOR akan ditutup.
“Permainanmu bagus. Tapi belum terlalu bagus untuk ngalahin aku.”Bintang bertolak pinggang di hadapanku tersenyum puas.
“Iyaa. Aku kalaah.”aku mulai berbaring sambil mengatur nafas.
“Hehehe.. Sekarang pulang yuk.. Sebelum kita terkunci di dalam sini..”
“Okeh.. Pokoknya nanti kamu liat ajah pertandingan selanjutnya antara kamu dan aku. Aku pasti menang..”aku nggak mau kalah. Tapi mungkin aku nggak tau kalau ini menjadi pertandingan terakhir kami sebagai sahabat.
“Siip dah.. Tapi sekarang kita pulang naik apa nii?”tanyanya.
“Iya juga??Naik taksi aja yukk.Aku uda dikasi uang sama mama.”
“Nggak mau.. Ini udah malem Lan.. Aku minta jemput mama aja.. Aku telpon dulu,”
“Naik taksi aja.. Aku nggak mau repotin mama kamu.. Ayoo !”
“Nggak mau. Sekali aku bilang pulang sama mama aku itu artinya mama harus jemput. Udah kamu diem aja. Gpp kok,mama nggak akan merasa repot. Lagipula pas aku berangkat,mama janji mau jemput.”
“Dasar anak mami keras kepala..”aku bersungut sungut.

Pada waktu yang bersamaan saat Bintang ingin menelepon sang mama,adiknya Sisi yang baru berumur 5 tahun sedang demam. Ibunya pun sedang sibuk mengompresnya dengan bantuan mamaku.
“Mamah.. Ini Bintang lagi di GOR sama Bulan. Jemput sekarang yah? Kita tunggu. Kita udah selesai latihan. Mama udah janji mau jemput Bintang khan? Dadah..”Bintang berkata berentet begitu mamanya mengangkat telepon. Tanpa menunggu jawabannya ia langsung memutus hubungan.
“Kenapa Bu Lila? Siapa yang nelpon?”kata mamaku.
“Itu Bintang bu. Dia minta dijemput oleh saya.. Dia baru selesai latihan di GOR sama Bulan juga.”usai mengucapkan itu Mama Bintang langsung mendengar lengkingan tangis yang berasal dari mulut Sisi. Badan kecil itu meronta ronta dan mengejang. Alhasil mamaku dan mama Bintang langsung berinisiatif membawanya ke rumah sakit segera.

30 menit berlalu dan sekarang tubuh mungil itu sudah berbaring lemah dengan muka yang sudah pucat. Mama Bintang pasrah menatap dan menungu kesadaran sang buah hatinya yang bungsu itu. Sama sekali terlupa oleh pesan Bintang. Hingga mamaku yang tersentak sadar oleh kata kata terakhir di rumah sebelum mereka tergesa ke rumah sakit. Mama berpamitan ke Bu Lila dengan alasan untuk menemui urusan penting yang baru di ingat. Mama tak ingin menambah kekuatiran sang single parents itu. Betapa mulialah mamaku ini !
Dengan kecepatan tak biasa mamaku memacu mobilnya di tengah gelapnya malam. Hanya karena tak ingin aku dan Bintang menunggu lebih lama lagi. Padahal itu di luar kebiasaan mamaku yang selalu memacu mobil dengan kecepatan 60 km/jam. Tak mempedulikan kendaraan lain,hanya ingin secepatnya tiba di tempat tujuan untuk menjemputku dan Bintang. Hingga ia tak sadar,di belakangnya ada sebuah truk yang juga melaju dengan kecepatan tinggi. Namun sang pengemudinya tak sepenuhnya sadar dan awas akan sesuatu seperti mamaku yang selalu teliti dan cermat. Ia sudah kehilangan kesadaran karena hobinya yang suka mabuk itu tanpa memperdulikan nyawanya sekarang dan juga mungkin nyawa orang lain yang akan terenggut karena kecerobohannya.

Di saat yang sama aku dan Bintang masih menunggu di depan GOR yang sudah terkunci rapat. Bintang masih keras kepala untuk menunggu mamanya datang.
“Tunggu bentar lagi. Mama pasti datang. Mama udah janji.”jawabnya begitu setiap kutanya. Dengan nada keras dan yakin walaupun hati kecilnya pun masih ragu. Sebetulnya kata kata itu lebih tepat untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sejak kehadiran adik kecilnya itu perhatian mamanya memang lebih tertuju dan tercurah pada adiknya padahal dulu hanya untuknya. Ia masih berkeras kalau penyebab perpisahan mama dan papanya pun karna kehadiran adiknya yang dulu sempat ia nantikan. Namun setelah adiknya lahir ke dunia ini dia malah mencabut semua keinginannya dan malah berharap untuk memusnahkan adik satu satunya itu. Itulah penyebab awal Bintang dulu begitu ingin memusuhiku yang dia anggap sama seperti adiknya itu. Satu satunya hal yang dia banggakan,basket,terangkat darinya semenjak kemunculanku di dunia basket. Tapi sekarang dia sudah bisa menerima semuanya karena penjelasan dariku. Toh,dia sudah mengalahkanku di pertandingan yang belum 24 jam itu.
“Tang.. Coba kamu telpon mamamu lagi.”kataku merajuk sudah mulai jengkel.
“Udah.. Tapi nggak diangkat. Berarti mamaku sudah berangkat tapi lupa membawa HP”ujarnya memberi alasan. Dia memberi tanda ‘Mungkin macet ! Ini Jakarta,non.’
“Tapi kita mau nunggu sampai kapan?? Ini udah hampir 1 jam. Kalau macet nggak akan selama ini.”ujarku memberi alibi yang telak. Dalam hati Bintang pun membenarkannya. Namun sifat keras kepalanya menolak mentah mentah.
“Tunggu !”kata kata itu langsung disambut oleh dering HP Bintang. Dari nomor nggak dikenal. Bintang pun ragu ragu mengangkatnya.
“Bintang.. Ini mama.. Kamu dimana? Mama baru saja ingat kamu masih di GOR. Kamu bisa pulang sendiri khan? Tadi mama tergesa gesa mengantarkan adikmu yang sedang sakit. Maafin mama Bintang”
“Iya nggak papa Mah.”Bintang langsung menutup telepon. Singkat. Tapi kata kata itu masih melekat dibenaknya. Dia langsung mengajakku pulang. Aku yang heran langsung bertanya, “Kenapa? Kita khan lagi nunggu mama kamu?”
“Percuma. Mama nggak akan dateng. Semua karena Sisi. Selalu.”ia menjawab kacau dengan wajah kusut.
Cukup ! Aku sudah tau alasannya. Pasti Bintang sekarang lagi marah besar. Aku memutuskan tutup mulut daripada kemarahannya bisa meledak,Bintang memang terlalu emosional bila menyangkut tentang adiknya yang baru 5 tahun itu. Kami pun pulang dengan ideku sedari tadi,dengan taksi. Sesampainya di rumah aku disambut dengan muka cemas Aya.
“Lan? Kamu pulang sama Bintang? Mama mana?”
“Mama?? Apa hubungannya sama mama. Memang mama ada dimana? Tadi aku pulang sama Bintang naik taksi,”ujarku santai.
“Mama tadi di rumah Bintang. Trus nganterin Sisi ke rumah sakit. Setengah jam yang lalu katanya mau jemput kamu. Emang kamu nggak ketemu mama?”
“Enggak tuh.. Jadi sekarang mama dimana?”pertanyaanku dijawab oleh deringan telepon. Bik Inah pun dengan sigap menerimanya. Namun aku heran melihat raut wajahnya berubah menegang.
“Non.. Non.. Nyonya..”kalimat bibi terputus. Ia sibuk menelpon kembali. Sepertinya bibi menelpon papa. Ada apa ?batinku bertanya ada yang tak beres. Feelingku sudah terjadi sesuatu sama mama.
“Assalamu alaikum tuan.. Inalillahi.. Nyonya mengalami kecelakaan.. Sekarang sedang ditangani di RS. Anggara. Mohon tuan cepat pulang..” kata kata bibi bagai petir di telingaku. Kecelakaan??? Kulihat Aya pun sama terkejutnya sepertiku. Tak lama papa datang untuk menjemput kami menuju rumah sakit. Selama perjalanan papa dan Aya sibuk beristighfar kecil. Sedangkan aku terlalu syok hingga cuman bisa terdiam dan termenung.

Kenapa waktu begitu cepat berjalan ? Apakah roda kehidupan telah memutar jauh ? Ya Allah aku belum siap untuk ditinggalkan mama secepat ini.Andai ada yang bisa ku perbuat agar mama bertahan. Lindungilah mamaku selalu dan buatlah ia bahagia. Padahal aku belum membanggakannya. Ingin ku persembahkan semua bunga terindah di dunia buat mama tercinta. Tapi apa daya tangan kecilku yang masih kecil ini dengan kuasa-Mu. Semoga mama tenang di sisi-Mu...


Waktu memang terus berjalan. Membiasakan diriku tanpa seorang mama di sampingku. Setelah aku dan Aya lulus dari bangku SD papa memutuskan agar kami pindah ke Bandung. Meninggalkan semua kenangan manis bersama mama untuk bangkit dan melanjutkan kami tanpa tetes air mata. Aku harus berusaha lebih tegar agar mama tak perlu lagi mencemaskan aku. Aya sedari dulu sudah dapat menerima semuanya dengan lapang dada. Sedangkan aku masih terus menyalahkan Bintang atas kematian mama seperti Bintang yang selalu menyalahkan Sisi atas perpisahan kedua orang tuanya. Sebetulnya ini alasanku yang terlalu tak menerima takdir.
“Bintang ! Coba kamu mau aku ajak pulang naik taksi dari awal. Jadi mamamu tak harus ingin menjemput kita. Dan mamaku tak perlu menjemput ajalnya karna ingin menjemput kita. Kamu terlalu egois.”Bintang selalu tertunduk setiap mendengar semua kata kataku yang menyudutkannya. Tak seperti kebiasaannya yang dulu selalu menampikkan kata kataku.
“Sudahlah Lan.. Kasian Bintang. Kamu jangan nyalahin dia. Ini udah takdir.”Aya selalu membelanya sehingga membuatku semakin dongkol. Tapi suatu pagi papaku memberi penjelasan lebar.
“Jangan pernah kamu nyalahin orang lain karena kematian mama.. Kamu nggak mau nyalahin Allah karena semua ini khan? Ini takdir. Nggak ada sangkut pautnya dengan kesalahan Bintang? Jadi kamu mau minta maaf atas semua perkataan kamu yang udah nyakitin dia?”ujar papa membuatku sadar. Sadar atas kebodohanku yang emojokkan Bintang. Seharusnya aku lebih bisa mengerti dia. Dia juga pasti merasa keilangan karena mamaku juga sudah seperti menganggap dia anak kandung. Aku begitu menyesal. Namun penyesalanku begitu terlambat. Saat aku pergi ke rumahnya,mamanya menjelaskan kalau mulai sekarang Bintang tinggal bersama ayahnya. Jadi sekarang mama Bintang cuman tinggal berdua dengan Sisi? Aku pun belum mengatakan salam perpisahan dengannya karena besok keluargaku akan pindah. Aku hanya dapat menitipkan salam untuk Bintang pada mama Bintang.


Detik berlalu dengan jam. Jam berganti menjadi hari. Hari berubah menjadi bulan. Dan bulan berubah menjadi tahun. Lengkaplah sudah 4 tahun waktu berjalan dan aku tak kunjung bertemu untuk berbaikan langsung dengan Bintang. Namun tadi pagi aku baru saja bertemu dengan wajah yang begitu kurindukan. Tapi mengapa ia tak menyapaku? Apa dia lupa sepertiku?
“Tadi aku sempat mengobrol dengannya panjang..”aku terhenyak. Aya sudah ngobrol sama Bintang? Tapi Bintang saja belum menyapaku? Segelintir rasa bersalah dan takut menghinggapiku. Kalau saja aku dulu tak menyalahkannya,dia pasti tidak akan tinggal bersama papanya dan kami pasti masih bersahabatan sampai sekarang. Bagaimana kalau sekarang dia yang membenciku?
“Tadi dia titip salam untukmu. Katanya dia ingin berbicara panjang lebar denganmu. Tapi dia nggak enak sama Matahari.”ujarnya lagi membuatku lega. Fiuh,,ternyata Bintang masih menganggapku teman.
“Oya,,kamu udah nggak marah sama dia lagi khan?”Aya bertanya menyelidik.
“Mmmh,, enggaklah. Gue udah bukan anak kecil lagi. Pikiran gue udah terbuka kok. Tenang aja..”sahutku.
“Bukan anak kecil lagi?? Hahaha. Tapi sama aja sikap kamu masi kekanak kanakan. Ntar pasti berantem sama Bintang lagi?”
“Hehehe. Maybe yes maybe no.. Abis kangen ngeledek dia.”aku cengegesan. Tak lama bel berbunyi dan muncullah sosok yang dibicarakan.
“Bintang???”aku berlari dan memeluknya. 4 tahun merubahnya menjadi jauh lebih tinggi dariku.
“Iih.. Bulan lebai deeh. Kangen yaa ama eke?”Bintang mulai meledek.
“Bintang 4 tahun berubah jadi banci ya??”jitakan kecil mendarat di kepalaku. Jitakan yang sudah lama nggak aku rasakan dari Bintang. Dia pun mulai mengacak rambutku.
“Bintang rese !!!”
“Diem Lan.. Lo tuh masi bau. Belum mandi ya? Baru pulang khan? Make meluk gue yang udah mandi. Ntar gue harus mandi lagi niih.”
“Wheek.. Biarin aja... Walaupun gue bau tapi gue masi imut.. Hehehe.”aku menjulurkan lidah sambil berlari ke kamar mandi dan memberi isyarat yang menandakan ‘aku mau mandi dulu.’

Seperti membalas hari hari yang telah kami lalui tanpa kebersamaan,setiap hari aku,Aya, dan Bintang mengobrol,bermain dan belajar bersama di taman dekat rumah. Seperti taman masa kecil kami mengambil tempat favorit dibawah pohon beringin. Namun pohon disini jauh lebih besar dan rindang. Aku terlalu senang bisa bertemu lagi dengan Bintang hingga nggak sadar telah tidak mengacuhkan sahabatku selama Bintang nggak ada,Ari. Rumah Ari memang nggak jauh dari rumahku. Biasanya pun setiap sore aku bermain basket bersamanya di taman. Tapi jadwal itu telah tergantikan semenjak kedatangan Bintang. Ternyata tanpa sepengetahuanku Ari yang sudah merasa gerah melihat kedekatanku dengan Bintang mengajak Bintang adu basket. Ari memang tau Bintang itu teman masa kecilku dan aku telah bercerita banyak tentangnya. Mungkin Ari merasa tidak enak berada diantara kami meski telah kuberi penjelasan.
“Lan.. Sekarang lo harus milih antara gue sama Bintang. Jadi sekarang setelah dia dateng lo mau campakin gue begitu aja?”Ari berteriak emosi.
“Ri.. Kenapa lo pikir gitu? Lo sama Bintang sama aja bagi gue. Kalian sahabat gue yang udah gue anggep sodara sendiri. Gue nggak bisa milih salah satu dari kalian.”aku bingung menjawab pertanyaan yang menghentakkanku dan mebuatku galau.
“Lo nggak usah milih Lan. Gue tau selama gue nggak ada Ari yang jaga elo. Sekarang gue uda puas ngeliat lo baik baik aja. Gue yakin sekarang Ari bisa jaga elo dengan baik melebihi gue. Tenang gue masih jadi temen lo kok. Sekarang gue mau bantu Aya dulu.”Bintang berlalu dari taman,bergegas balik menuju rumahku,bergegas untuk menemui Aya bukan aku. Biarlah begini saja ! batinku menggerutu kacau.

“Lan.. Sori.. Gue nggak suka aja kalo lo deket lagi sama Bintang.”Ari membuka perbicangan di sela sela pelajaran kosong yang hanya mengerjakan tugas.
“Iyah.. Nggak papa.. Seharusnya gue yang minta maaf karena nggak peka sama lo. Ada masalah lain? Tapi kenapa lo nggak suka sama Bintang sii?”
“Hehehe. Gue malu ngakuinnya. Tapi dia lebih jago basket dari gue. Kemaren gue kalah tanding sama dia. Gue takut lo ninggalin gue karena dia..”
“Hahahaha.. Gitu aja? Perasaan lo kalah dari gue aja biasa biasa aja..”aku terkikik sendiri melihat kepolosan Ari. Tapi aku langsung diam saat Ari nginjek kakiku memberi tanda kalau ada guru dateng. Dalam hati aku merintih sendiri. Sakit banget tau ! Tenaga Ari kaya gajah aja!
Tak terasa hari demi hari kami lalui di bangku sekolah. Bersama bercenda gurau menertawakan guru dan siswa gokiel di sekolah. Mengomentari berbagai fasilitas sekolah. Hingga baru menyadari waktu menjelang kelulusan tinggal sebentar lagi dan saat saat kebersamaan kami telah hilang.
“Mau lanjutin kuliah dimana Ri??”
“Insya allah di UNPAD. Kalo keterima. Lo sendiri?”
“Lo sebagai pemegang NEM tertinggi di sekolah kita pasti keterima. Gue juga mau lanjutin kesana. Biar sama elo.. Ya nggak? Hahaha.”aku mulai bercanda.
“Serius??”
“Serius.. Tapi kalo keterima. Hehehe.”ujarku.
“Yah.. Bosen deh gue kalo nanti ketemu lo lagi!”
“Jahaat ! Yaudah lo nggak usah deket deket.”
“Becanda mas...”
“GUE BUKAN OMAS.. GUE TUH BULAN !”aku teriak di kupingnya buat balas dendam.
“Iyah mbak Bulan. Aduuh,jangan teriak teriak,mbok sudah denger. Ntar mbok budek lagi.”Ari menirukan gaya bicarak Mbok Ijah. Kami pun tertawa berderai derai. Sepulang sekolah Bintang mengajakku berbicara berdua saja. Aku memberi tanda buat Ari agar pulang duluan. Dia hanya mengangguk mengerti.
“Lan.. lo mau lanjutin kuliah kemana?”
“UNPAD,”jawabku pendek.
“Sama kaya Aya?? Lo nggak mau tau gue mau lanjutin kemana?”
“Iya. Kalo udah tau kenapa nanya? Nggak. Gue nggak mau tau.”
“Kok jutek banget sii? Kaya Bulan yang dulu musuh gue. Beneran nggak mau tau? Gue mau ajak lo jalan jalan dan mau nraktir niih.”dia menawarkan traktiran. Dia memang paling tau cara membuatku berhenti ngambek.
“Mau deeh. Daripada di rumah gue suntuk. Hehehe,ntar beli es krim ya?”aku langsung mengambil kesempatan emas untuk membuat Bintang bangkrut.
“Sipph.. Lo mau beli es krim segerobak juga boleh. Sekalian sama pedagangnya juga silahkan saja..”
“Bener??”mataku berbinar melihat Bintang yang lagi royal.
“Iya.. tapi kalo itu pake duit lo sendiri. Hahaha.”
Mataku berkilat siap memberi jurus gelitik pada Bintang.
“Ampun Lan.. Kita pergi sekarang yuuk. Keburu kemaleman ntar pulangnya.”

Kami berjalan bersama merasa dunia hanya milik kami berdua. Tapi entah mengapa aku takut ini menjadi kebersamaan kami yang terakhir. Kejadian yang terlalu manis untuk dlupakan. Bintang mengikuti semua keinginanku tanpa mengelak seperti biasanya. Bukan seperti Bintang yang asli. Dia membelikan boneka kelinci kesukaanku,membelikanku 3 es krim hanya untukku, dan mau kuajak berfoto bersama. Ini diluar kebiasaannya yang paling males buat difoto kecuali untuk kepentingan sekolah. Tapi aku merasa sangat senang hari ini. Hingga tak terasa malam telah turun.
“Makasih ya Tang.. Udah ngajak gue jalan. Gue seneng banget.”
“Gue juga seneng bisa nemenin lo.”
“Tumben. Lo hari ini nggak banyak berkeluh menghadapi gue. Biasanya bawel abis. Hehehe.”
“Yupp.. Gue lagi cape aja ngomel mulu. Gue lagi pengen jadi baik di mata lo.”
“Hahaha.. Bener bener aneh lo hari ini. Ini bukan lo banget. Tadi pagi lo salah minum obat ya?”aku mencoba bercanda.
“Gue nggak minum obat kok. Sekarang kita makan dulu ya? Baru kita pulang. Masih gue traktir niih.”Bintang menjawab serius. Nggak ada nada canda seperti biasanya saat menimpali ucapanku. Aneh ! Aneh banget..
Kami berjalan menuju warung makanan seafood kesukaanku. Hari ini sepertinya dia memang ingin menyenangkanku. Aku jadi nggak enak hai,karena aku tau kalo Bintang nggak begitu suka seafood,tapi makanan chinese yang letaknya di sebelah warung seafood.
“Tang.. Kita ke warung makanan chinese aja yuuk. Kita makan makanan kesukaan lo.. Masa daritadi lo nurutin kemauan gue terus..”
“Okeh.. Terserah lo.. Kalo lo mau gue juga mau.”kata Bintang sambil tersenyum.
“Siph.. Hhehe.”
Kami memesan makanan plus soft drink. Aku hanya mengikuti pesanan Bintang yang sudah terjamin enak. Sambil menunggu pesanan makanan datang kami melajutkan mengobrol.
“Tang.. Lo belum bilang mau lanjutin kuliah dimana?”tanyaku penasaran.
“Mmmhh..”Bintang menghela nafas panjang. Bersiap memberi penjelasan panjang
“Gue mau lanjutin di Aussie. Gue disuruh bokap untuk lanjutin karir bokap. Jadi gue harus dapet pendidikan sebagus mungkin. Itu kata bokap. Makanya gue disuruh lanjuti kesana.”
“Ntar kita jauh dong Tang??”
“Sebetulnya gue juga nggak mau pisah jauh dari elo.. Apalagi setelah 3 tahun kita nggak ketemu. Tapi 2 tahun yang lebih singkat udah ngobatin rasa kangen gue.. Lagipula kalo ada liburan atau waktu luang gue pasti akan balik..”
“Iya deh.. Gue harap lo bisa nemuin masa depan yang cerah disana. Jangan main main. Bokap lo udah mempercayakan semua ke elo khan? Gue rela ngelepasin lo biar lo bahagia.”
“Makasih Lan.. Lo bisa ngertiin gue.”
“Your welcome..”
“Gue punya kado spesial buat elo..”Bintang meberikan sebuah kalung yang liontinnya berupa bintang. Bintang yang indah seindah Bintang di hadapanku. Aku akan terus menyimpannya dan mengenakannya untuk mengingat Bintang.

Satu bulan berlalu dari acara perpisahan. Hari ini gue,Ari, dan Aya udah sah diterima sebagai mahasiswa di UNPAD. Dan ini saatnya Bintang berngkat ke Aussie buat memulai masa kuliahnya. Aku merasa terharu dan bangga ternyata anak bengal ini mampu melanjutkan kuliah di negeri orang..Wish u always be good ! Semoga gue bisa ketemu lo lagi di liburan yang akan datang..
Masa kuliah dimulai dan aku mulai disibukkan karenanya. Walaupun begitu aku masih berhubungan dengan Bintang melalui SMS ataupun telepon. Tak jarang kami bertukar email dan menceritakan pengalaman. Tak terasa 3 bulan berlalu dan Bintang berjanji akan balik ke Bandung untuk liburan. Aku,Aya,dan Ari antusias untuk menyambut kedatangannya nanti. Siang hari kami bersiap menjemput di bandara. Namun ternyata pesawat itu terlambat. Hingga sore saat kami masih menunggu,kabar terbaru membuat jantungku serasa berhenti berdetak.
“Penerbangan tadi siang dari bandara Aussie menuju bandara di bandung mengalami kecelakaan. Badan pesawat yang terbakar diperkirakan hanya sedikit korban selamat. Daftar korban meninggal yang sudah di evakuasi akan di beritakan sesaat lagi. Untuk para keluarga yang ditinggalkan kami turut berduka.”
Sesaat aku berharap Bintang menjadi korban yang selamat. Sungguh berharap walaupun kemungkinannya 1 : 100. Tapi pupus sudah anganku saat membaca korban yang sudah tak bernyawa dan tak berhasil diselamatkan.. Nama BINTANG SAPUTRA telah tertera di daftar itu.. Aku tak sanggup menerima kenyataan pahit ini lagi.. Bintang-ku telah pergi untuk SELAMANYA.. Ngaak akan pernah ada lagi buat melindungiku, bermain basket bersamaku,dan mengajakku jalan. Aku menggenggam liontin darinya erat dan menyadari bahwa rantainya telah putus. Tinggal liontin bintang yang kugenggam erat. Ku harus menemukan rantai baru untuk mengantikan rantai yang telah putus itu. Namun posisi Bintang di hatiku nggak akan tergantikan. SELAMAT JALAN ! Lo tetep jadi Bintang di hati gue dan sampai kapanpun akan terus bersinar di hidup gue.. Walaupun tubuh lo udah pergi jauh dari gue.. Gue nggak akan lupain lo lagi.. SELAMANYA..
Malam ini aku habiskan memandang hamparan bintang di langit yang gelap. Berharap sosok yang seharusnya sekarang kutemui tersenyum diatas sana.. Ku masih mengenggam liontin peninggalan itu.. Satu satunya benda kenangan darinya yang telah PERGI !!

0 comments:

Post a Comment